HIPERMARKET DIKEPUNG MINIMARKET, BISA LOLOS…? (Bagian 2)
Pixabay
Ada pertanyaan, kenapa banyak hipermarket tutup di era covid?. Apakah hipermarket sudah kurang disukai lagi?
Ini mesti kita telusur masalahnya, tidak hanya sekedar suka atau tidak suka.
Pada masa pandemic, ada 88 persen perusahaan yang turun omsetnya. Dan 45 persen diantaranya penurunan omsetnya lebih dari 50%. Ini menurut data PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
Bayangkan, hampir 2 tahun mengalami defisit, maka cash flow keuangan menjadi sangat terganggu. Toko kecil mungkin masih lebih mudah diatasi. Tapi bagi toko seukuran hipermarket yang 8.000 m2 misalnya?.
“Bagaimana membayar sewa ruangan toko, AC, Listrik, gaji bulanan sekian puluh atau ratus orang,? Itu semua amat besar, padahal tak ada pemasukan wajar dari hasil penjualan.
Itu sebabnya bisnis yang menggunakan ruangan besar, banyak karyawan seperti hipermarket ini lebih cepat rontok dengan melenggangnya covid selama 2 tahunan.
Serangan dari bisnis online juga makin memperberat. Dengan adanya perubahan gaya belanja masyarakat lebih ke online membuat pangsa pasar toko fisik (konvensioanl) banyak tergerus, terutama pada era covid. Tapi sekarang, setelah covid berlalu, konsumen sudah banyak yg balik ke toko konvensional.
Bagaimana dengan efek minimarket (Indomaret, Alfamart, dll) yang sekarang sudah bertebaran sampai ke kelurahan. Tentu ada pengaruhnya, tapi mestinya tak sebesar dua yang di atas tadi.
Dalam segi barang misalnya, bila satu hipermarket dikelilingi 100 minimarket itu tak terlalu hebat pengaruhnya karena jenis barang di 100 minimarket itu relative sama (misal sekitar 5.000 item, tidak menjadi 500.000 item), karena setiap 1 cabang minimarket itu jenis barangnya relative sama dengan cabang lain. Ini secara umum, sesuai kelas minimarket, meskipun perbedaan kecil sih tetap ada.
Maka dari segi jenis item barang, hipermarket tetap jauh lebih unggul dibanding minimarket.
Jadi rasanya minimarket tak akan membunuh hipermarket karena masing-masing punya karakter dan strategi berbeda dalam menarik konsumen.
Apalagi hipermarket menyediakan tambahan barang yang berbeda seperti furnitur, sandang, elektronik, ditambah fasilitas entertain seperti kuliner, permainan, dan acara keluarga.
Dan Indonesia sangat luas pasarnya, bisnis yang divonis sudah jenuh di Jakarta belum tentu mengalami nasib sama di kota-kota kelas daerah.
Tapi pemulihan untuk segera sehat tak kan secepat yg diinginkan. Banyak yang tergerus modal kerjanya ketika era covid merajalela. Jadi masa balik untuk tumbuh sangat bergantung juga kepada seberapa kuat sisa modal dagangnya setelah melewati masa covid. Dan kehilangan modal kerja ini lebih banyak diderita ritel ukuran besar dibanding yang kecil-kecil. Jadi nasib yang dialami Giant belum tentu tak diikuti bisnis lainnya. Tapi semoga dugaan ini meleset.
Namun bagaimana pun badai sudah mulai berlalu. Kita sambut pemulihan bisnisnya dengan semangat baru. Kalaupun format hipermarket susah diterapkan maka mungkin perlu diturunkan size nya lebih ke ukuran supermarket. Di Jabar misalnya, Superindo dan Jogya rasanya lebih tahan tak separah hipermarket yg kolaps. Jadi perlu ditemukan format size toko yang optimum.
(Undang A Halim)

Comments
Post a Comment