TREN BISNIS RITEL MASA KINI “SHOWROOMING” dan “WEBROOMING”

Mengantisipasi perubahan perilaku konsumen, akibat perkembangan smartphone yang pesat.
Konsep berbelanja banyak berubah, tren bisnis ritel berubah, akibat perkembangan pesat internet dan dunia gadget (HP dll) saat ini. Dua konsep pengecer yang tren saat ini misalnya adalah "showrooming" dan "webrooming." 
Apakah itu? Bayangkan dulu kasus ini: sebelum belanja, orang ngecek harga dulu di smartphone, lalu nanti belanjanya di toko. Di sisi lain, ada yang ngecek harga dulu di toko tapi nanti membelinya di online. Fenomena ini yg akan kita bahas. Konsep-konsep showrooming dan webrooming adalah hasil dari perubahan kebiasaan belanja konsumen. 
Tren bisnis ritel berubah. Sekarang banyak orang berbelanja dengan smartphone di tangan, dengan alat pintar ini banyak pelanggan memeriksa dulu harga produknya, membaca ulasan online tentang produk itu, dan memiliki preferensi khusus tentang jenis produk apa yang akan mereka beli. Nanti belinya mungkin di toko atau beli online. 
 Bagaimana mengantisipasi Tren Bisnis Ritel berubah ini? Peritel besar mungkin memiliki anggaran untuk membantu mengejar ketinggalan ini. Tapi pemilik usaha kecil? seringkali punya masalah yg lebih besar. Tapi jangan takut, kami telah mengumpulkan beberapa taktik untuk membantu problem pengecer. 
 Apa pengaruh webrooming dan showrooming terhadap bisnis Anda, mari kita telusuri langkah-langkah spesifik apa yang dapat Anda ambil untuk membuat perubahan kebiasaan belanja ini bisa menguntungkan Anda. 
 Apa yang Mendorong Kebiasaan yang Berubah Ini? Showrooming dan webrooming bukanlah konsep baru. Beberapa industri ritel telah mengkhawatirkan fenomena ini sejak awal 2010-an. Namun sebelum kita mendalami kedua tren tersebut, mari kita lihat beberapa datanya. 
Satu studi tahun 2017 menunjukkan sekitar 71% konsumen masih berbelanja secara online untuk mencari harga terbaik. 
Dan menurut survei Nielsen Global Connected Commerce, mayoritas konsumen melakukan penelitian online dulu sebelum berbelanja - terlepas dari apakah pembeliannya kemudian dilakukan di dalam toko atau secara online. 
Dan sementara banyak pembeli mengecek dulu harga produk, mereka juga melakukan hal-hal lain seperti mencari informasi produk tambahan. Pembeli melakukan lebih banyak penelitian dulu untuk belanja produk-produk mahal tertentu. 
 "Ini terutama berlaku untuk kategori barang tahan lama dan harga lebih tinggi seperti barang elektronik, produk seluler, dan furnitur. 
Ini disebabkan oleh sebagian besar konsumen dalam survei mengatakan bahwa mereka melakukan penelitian online sebelum membeli, terlepas dari apakah pembelian dilakukan di dalam toko atau online, "kata laporan Nielsen. 
 Studi yang sama menunjukkan bahwa pembeli lebih suka membeli secara online untuk produk tahan lama (misalnya buku, musik, elektronik, dan pakaian) daripada produk untuk dikonsumsi (bahan makanan segar, obat-obatan, minuman). 
Jadi, seperti yang ditunjukkan oleh laporan tersebut, tidak setiap kategori ritel cenderung mengalami lonjakan dalam showrooming atau webrooming, tergantung jenis barangnya. 

 Apa itu Showrooming dan Webrooming? Meskipun showrooming dan webrooming berada di sisi berlawanan dilihat dari perilaku pembeli, keduanya merupakan aktivitas yang telah berevolusi dari akses teknologi yang berkembang (yaitu penggunaan smartphone yang dibawa orang ke mana-mana). 
Pada dasarnya, mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Menurut Techopedia, showrooming bisa diartikan sebagai: "Showrooming adalah saat pembelanja mengunjungi toko untuk melihat-lihat produk (membandingkan harga, dll) tetapi kemudian membeli produknya secara online ... 
Hal ini terjadi karena, meskipun banyak orang masih lebih suka melihat dan menyentuh barang dagangan yang mereka beli, tapi banyak barang yang sama dijual dengan harga lebih murah lewat vendor online. Dengan demikian, toko lokal pada dasarnya “hanya” menjadi ruang pamer bagi pembeli online. " 
 Sementara Dr.Gary Edwards dari Empathica memberikan definisi yang bagus tentang webrooming: "Webrooming adalah kebalikan dari 'showrooming'. Dalam showrooming, pengecer dihadapkan pada tantangan pelanggan yang datang ke toko hanya untuk melihat-lihat dan menguji produk, sementara pembeliannya mereka lakukan secara online setelah pulang (seringkali melalui pesaing toko itu). Webrooming adalah kebalikannya, konsumen meneliti produk dulu secara online, lalu datang ke toko untuk evaluasi akhir dan melakukan pembelian di toko. 

Showrooming vs Webrooming 
Di masa lalu, ada banyak pembicaraan menyedihkan tentang bagaimana kasus showrooming itu telah mengurangi profit pengecer dan sepertinya tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menangkis dampaknya. 
Namun, pengecer telah melawan dan menggunakan beberapa cara untuk mengimbangi dampak showrooming ini, dan salah satu hasilnya adalah munculnya webrooming. Webrooming adalah tren yang membuat gelombang di dunia ritel. 
Menurut jajak pendapat Harris, 69% orang melakukan webrooming sementara 46% membeli secara showrooming. 
 Beberapa alasan utama terjadinya peningkatan kasus webrooming (pembeli yang menjelajah online tapi membelinya di toko) meliputi:

 • Semakin banyak pengecer yang beralih ke penjualan multichannel dan mengadopsi e-commerce 
• Banyak pelanggan yang lebih berpengalaman belanja di toko, seperti pengalaman cara berbelanja atau pengenalan tentang suatu barang. 
• Lebih banyak pelatihan karyawan untuk membentuk staf penjualan yang berpengetahuan luas 
• Banyak toko yg menerapkan sistem “Click and collect”, order secara online lalu barangnya diambil di toko.
 • Fasilitas yang makin meningkat di dalam toko seperti WiFi dan acara menarik
 • Program Diskon menarik untuk orang yang lewat membawa ponsel, diundang untuk masuk ke toko (pemasaran jarak dekat).

 Masih ada beberapa ide lagi untuk membuat pelanggan ingin datang ke toko untuk membeli produk Anda. Merchant Warehouse menawarkan beberapa wawasan bagus. 
Menurut mereka, berikut beberapa alasan kenapa pelanggan lebih memilih webrooming daripada showrooming: 

• 47% tidak mau membayar biaya pengiriman 
• 23% tidak mau menunggu produk dikirim.
 • 46% suka pergi ke toko untuk menyentuh dan merasakan suatu produk sebelum mereka membelinya 
• 36% akan meminta toko untuk menurunkan harga yg lebih baik dibanding harga yang mereka temukan secara online 
• 37% menyukai opsi untuk dapat mengembalikan barang ke toko jika diperlukan. 

Sekarang, mari kita lihat bagaimana peritel dapat mengubah titik-titik lemah ini menjadi peluang untuk keuntungan toko ritel mereka yang mendukung bisnis mereka. Bagaimana caranya Peritel dapat Membuat Showrooming dan Webrooming Bekerja Sesuai Keinginan Mereka (bersambung).

 (Undang A Halim) 

 Sumber: “Consumers Are Showrooming and Webrooming Your Business, Here's What That Means and What You Can Do About It” (by Humayun Khan)

Comments

Popular posts from this blog

Gerai Hypermarket Banyak Tutup Permanen, Ini Kata Ekonom

LIMA KIAT MENAKLUKKAN TREN SHOWROOMING & WEBROOMING (Sambungan)