HIPERMARKET DIKEPUNG MINIMARKET, BISA LOLOS…? (Bagian 1)

                                                                       Pexel 

 Dunia bisnis ritel gonjang ganjing, terutama sejak munculnya wabah Covid. Perusahaan online ada yang menutup lapak, yang lainnya banyak mem-PHK karyawan. 
Hipermarket ada yang gulung tikar, ada juga yang menutup sebagian cabangnya. Dan beberapa usaha lainnya mendapat problem. Maka, dunia ritel akan meredup atau masih ada celah harapan? 

 Kali ini kita fokuskan untuk mengintip nasib hipermarket. Ada yang berwacana hipermarket akan mati karena bersaing dengan ribuan minimarket. Sejauh mana kemungkinannya? Sebagai seorang praktisi manajemen bisnis ritel, saya tak terlalu cepat mengatakan ya, karena masih banyak potensi hipermarket untuk bisa lolos dari ujian ini. 

Hipermarket tak akan mati …
Sesungguhnya, hipermarket dan minimarket itu merupakan dua binatang berbeda. Tak bisa dibenturkan secara “apple to apple.” Minimarket berukuran sampai 1.000 m2, dengan jumlah item sampai 5.000 item. Harga barang umumnya lebih mahal dibanding hipermarket. Keunggulannya, lokasi lebih dekat dengan konsumennya. Maka pembeli tak perlu banyak mengeluarkan uang transport. 
 Sementara hipermarket berukuran 5.000 m2 ke atas dengan jumlah barang di atas 50.000 item. Harga barang umumnya lebih murah dibanding minimarket. Maka banyak konsumen yang membeli borongan. 

 Inilah konsep awal tentang hipermarket dan minimarket. Di minimarket orang biasanya belanja dalam jumlah kecil. Harga mungkin lebih mahal sedikit tapi hemat di transport. Jenis barangnya biasanya kebutuhan utama meskipun saat ini ada tambahan variasi produk. 
 Di hipermarket orang bisa berbelanja lebih besar, harga lebih murah, kelompok barangnya banyak, juga bisa belanja sambil pelesiran (entertain). Maka hipermarket dijadikan tempat untuk “belanja bulanan.”

 Itu sebabnya, bila hipermarket memasang harga lebih mahal akan mendapat problem. Transmart misalnya, beberapa cabangnya sudah ditutup. Lalu, ada keluhan bahwa harga barang di Transmart kini lebih mahal dibanding minimarket. Bila keluhan harga ini sahih maka wajar Transmart menurun salesnya karena gayanya sudah berbeda dengan Carrefour, hipermarket yang diakuisisinya. 
 Transmart itu meneruskan brand Carrefour (peritel nomor 2 terbesar di dunia), maka gaya strateginya mesti paralel. Padahal Carrefour itu strategi intinya adalah harga murah. Dan saat lampau sales hipermarket Carrefour sangat tinggi di samping Makro. Jadi wajar kalau ada pelanggan Carrefour yang lari dari Transmart bila merasa Transmart sudah “beda” dengan Carrefour. 

Bila Transmart menerapkan lagi konsep awalnya ditambah konsep-konsep barunya seperti “4 in 1” (belanja, bermain, kuliner, hiburan dalam satu atap), kemudian lebih aktif membangun omnichannel ditambah masih memiliki modal yang menunjang maka Transmart bisa bangkit lagi. Demikian juga hipermarket lain yang di Indonesia sudah berubah dari konsep awalnya, paling tidak tak mengalami nasib seperti Giant yang tutup layar. 

 (Undang A Halim)

Comments

Popular posts from this blog

TREN BISNIS RITEL MASA KINI “SHOWROOMING” dan “WEBROOMING”

Gerai Hypermarket Banyak Tutup Permanen, Ini Kata Ekonom

LIMA KIAT MENAKLUKKAN TREN SHOWROOMING & WEBROOMING (Sambungan)